Skip navigation

Sering denger kata – kata gak usah ngurusin orang lain, mereka udah gede, udah ngerti mana yang bener mana yang salah, seandainya para nabi seperti ini, tentunya risalah ini tidak sampai ke kita 😉 bukankah kita disuruh untuk saling mengingatkan dalam kebenaran :’)

Untaian kalimat diatas mengawali ketikan – ketikan saya setelah hampir dua tahun tidak menggoreskan untaian hikmah diblog ini lagi, entah kenapa bagaikan menulis di atas air, saya terlalu sulit untuk menuliskan hikmah – hikmah yang sering saya jumpai dalam setiap hela nafas kehidupan saya. Setelah beberapa waktu yang lalu saya sempat ditanyai oleh seorang teman dari komunitas blog tentang blog pribadi saya maka saya tiba – tiba menjadi malu karena tidak pernah lagi meng update blog pribadi saya ini. Blog yang pada awal saya buat saya ingin dapat berbagi hikmah yang saya temui dalam kehidupan saya dengan para sahabat yang menyempatkan diri untuk mampir ke blog saya. Saya seolah – olah diingatkan untuk memulai menyusun bait – bait di blog ini, di blog tempat saya membagikan untaian hikmah.

Mari kita kembali ke topik yang kali ini saya ingin bagikan ke para sahabat pembaca. Untaian kalimat pembuka diatas merupakan bentuk pernyataan yang sering muncul difikiran saya ketika ada seseorang yang mengingatkan dalam kebenaran namun malah banyak mendapat tentangan. Kata – kata yang lazim kita temui adalah “gak usah ngurusin orang lain, mereka udah gede, udah ngerti mana yang bener mana yang salah” seperti kata – kata yang baru saja saya dapati di wall facebook saya ketika ada seseorang teman – mengingatkan teman lainnya. Padahal kita sering membaca suatu surat yang insyaaallah kita semua hapal surat yang pendek namun begitu dalam maknanya:

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling mansihati untuk kesabaran.

(Al ‘Asr: 1-3)

Dari surat diatas secara jelas kita disuruh untuk saling menasehati dalam kebenaran. Lalu mengapa pada saat ini ketika ada yang menasehati dalam kebenaran malah muncul kata – kata yang seolah – olah ingin agar kebenaran itu tidak tersampaikan. Padahal bila tidak mau merugi kita disuruh untuk mengingatkan dalam kebenaran. Lalu bagaimana posisi orang yang mencegah temannya untuk menyampaikan ataupun mansehati dalam kebenaran? Wallahu’alam Bishowab

Mari kita saling mengingatkan dalam kebenaran 🙂

Awan hitam nampak menggumpal di langit kota lumpia ketika saya mendekat ke parkiran yang cukup sempit di depan kost an. “Ah tampaknya akan hujan”, kata saya dalam hati tapi tak mengapa mantel sudah tersedia. Motor saya pun melaju membelah jajaran gedung serta rumah yang padat di sepanjang perjalanan. Dua puluh menit kemudian saya sudah sampai di depan sebuah tempat belanja grosir dengan halamannya yang luas. Pikiran saya mengusik untuk berkomentar, “Ini parkiran cukup kali ya untuk landing pesawat 🙂 “

Air mulai berjatuhan dari langit pertama rintik lalu kemudian semakin deras. Saya masih berada di atas motor saya, sejurus kemudian mengambil mantel dan mengenakannya. Sebuah mantel biru tua yang terdapat bercak- bercak putih rintik hujan yang mengering di atasnya. Janji untuk mengerjakan tugas kuliah bersama dengan kelompok di rumah seorang sahabat  membuat saya tak surut dengan hujan yang semakin lebat.

Saya ambil handphone saya yang butut, sebuah HP keluaran tahun 2005. Meskipun butut HP ini terbukti handal di segala medan. Dalam posisi terguyur hujan saya mencari celah agar HP saya bisa saya gunakan. Saya ketik sms kepada teman saya yang hari sebelumnya telah janjian dengan saya untuk berangkat bersama (karena saya belum tahu rumah sahabat saya yang satu ini 🙂 )

Setelah peristiwa saling menunggu, kami melakukan perjalanan menembus lebatnya hujan dengan membuntuti motor teman saya dari belakang. Genangan air yang tinggi dan padatnya arus lalu lintas hampir saya memudarkan niat saya. Saya dekati motor teman saya yang berhenti di perempatan jalan lalu bertanya apa masih jauh. Sebentar lagi kata yang memboncengkan teman saya.

Akhirnya kami sampai juga ke rumah sahabat saya. Celana bahan yang saya kenakan basah hingga ke lutut. Ibunda sahabat saya menyambut kami dengan ramah. Suasana menjadi hangat dengan senyum yang tersungging dari ujung bibir ibunda sahabat saya. Kami dipersilakan masuk, lalu kami duduk di sofa yang terasa empuk. Saya masih saja kedinginan, lalu teman saya mengeluarkan seteko teh hangat, sepiring singkong goreng, dan beberapa toples cemilan.

aku Suka Singkong Kau Suka Keju

de feat ari wibowo

“Ah saya ini suka sekali dengan keju namun saya tetap suka dengan singkong”, Kata saya dalam hati 🙂

 
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri
(de feat cinta)
Kadang kita merasakan sesak dalam menjalani kehidupan ini, muncul pikiran-pikiran “hidup kok berat sekali ya”, “hidup kok ribet sekali ya”. Kita ingin semua penat, semua pekat itu menyingkir, pelampiasannya kadang ke arah yang malah semakin menjauhkan kita dari rasa tenang, masalahpun semakin tak terpecahkan.
Pernah suatu ketika saya mendengar istilah “hidup itu penuh dengan masalah, kalau masalah kita di dunia habis berarti kita mati”. Ya, mati dalam arti sebenarnya, karena di dunia ini memang dipenuhi oleh masalah. Sering kita tidak terima akan adanya masalah – masalah tersebut.
 
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
 (QS al-‘Ankabuut, 29: 2-3)

Masalah- masalah tersebut merupakan ujian dari Alloh, dulu sewaktu kita SD bila kita ingin naik kelas dari kelas satu ke dua, dua ke tiga selalu melewati tahap ujian. Seperti itu juga lah Alloh menguji kita, ujian tersebut merupakan wujud kasih sayang Alloh ke kita. Agar kita naik kelas, agar kita lebih dekat denganNya, ah indahnya bila kita bisa naik kelas dan menjadi semakin dekat dengan Dzat Yang Maha Indah. 🙂

Ujian dari Alloh tidak hanya berupa kemiskinan tapi juga kecukupan. Ada orang yang hartanya melimpah namun orang tersebut malah tidak tenang hatinya, rasanya masih terus menerus kurang. Semakin dia melihat ke atas semakin kecil hatinya untuk bersyukur. Masalah demi – masalah yang kita terima seharusnya dapat memacu kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Alloh, bukan malah sebaliknya.

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (QS. al-Mu`minuun: 62)

Beban yang kita pikul, masalah yang kita sandang, amanah yang kita genggam di dunia ini tidaklah melebihi kemampuan kita. Ingatlah kita tidak sendiri, ada Alloh, Dzat Sang Maha Kuasa, Dzat Sang Maha Kuat, Dzat Sang Maha Memberikan Solusi yang menemani kita. Terus berusaha dan mengharapkan rahmat dariNya. Man jadda wa jada, Insya Alloh. 🙂

Pagi membangunkan saya dengan caranya yang unik. Mengalirkan hawa dinginnya menembus jendela kamar kost saya. Lalu mengusap – usap saya dengan dingin tersebut. Badan saya yang masih pegal – pegal karena hari sebelumnya dipaksa beraktivitas seharian akhirnya terbangun juga.

Pagi seolah – olah berkata, “de bangun de solat subuh” 🙂 Berbeda dengan pagi, ibunda saya yang kalau pagi sibuk membangunkan anak-anaknya yang bandel (ah kamu aja de mungkin yang bandel 🙂 ) untuk solat subuh. Ya terus terang saya kangen berat dengan suara ibunda yang tiap pagi akan membangunkan anak- anaknya untuk solat subuh.

Hampir dua bulan saya tidak pulang, padahal jarak rumah dengan tempat saya menimba ilmu hanya dua setengah jam bila ditempuh dengan bus. Rasa kangen sering beberapa kali terobati dengan mendengar suara dari ibunda di ujung handphone. Beberapa hari sebelum saya ujian tengah semester saya ditelphone oleh ibunda. Menanyakan apakah minggu ini saya pulang. Saya jawab saya belom bisa pulang, ada ujian tengah semester selama dua pekan di depan. Insyaalloh saya akan pulang sehabis ujian kata saya.

Setelah ujian ternyata saya dibuat bimbang, ternyata banyak amanah yang harus saya kerjakan di semarang dan bahwa ada kenyataan dua pukan setelah ujian tengah semester akan ada liburan Iedul Adha selama lima hari. Lalu saya telphone ibunda untuk mengabarkan hal ini. Ibunda menyarankan untuk menunggu hingga Iedul Adha saja.

Semoga di Iedul Adha nanti bisa bertemu kembali dengan seluruh keluarga di rumah 🙂


Aku bertanya “Ya Rasulullah, Manakah yang lebih utama wanita Dunia atau Bidadari yang bermata jeli ?

Beliau manjawab “Wanita Dunia lebih utama daripada bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat

Aku bertanya “mengapa Wanita Dunia lebih utama dari pada Bidadari?”

Beliau menjawab ” karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasanya kuning, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari Emas.

Mereka berkata”Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama skali, kami ridho dan tidak bersungut-sungut sama sekali, berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

 

(HR Ath Thabrani, dari Ummu Salamah)